Mengenal Burnout Syndrome: Mengapa Pekerja Kantor Rentan Mengalaminya?
Di era modern yang serba cepat ini, tuntutan dunia kerja sering kali memaksa kita untuk terus bergerak tanpa henti. Berangkat pagi, pulang malam, dikejar deadline, hingga tumpukan email yang seolah tidak ada habisnya kini sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi para pekerja kantor. Namun, dibalik rutinitas yang tampak produktif tersebut, ada ancaman nyata yang mengintai Kesehatan mental dan fisik karyawan, yaitu burnout syndrome.
Berdasarkan tinjauan literatur dari berbagai riset terbaru, burnout syndrome bukan hanya sekedar rasa lelah biasa yang bisa hilang hanya dengan tidur semalam. Organisasi Kesehatan dunia (WHO) bahkan secara resmi memasukkan burnout ke dalam klasifikasi penyakit internasional (ICD-11) sebagai fenomena yang murni lahir dari konteks pekerjaan. Kondisi merupakan akumulasi dari stress kronis yang gagal dikelola dengan baik, yang kemudian memicu kelelahan secara fisik, emosional, dan mental yang sangat kompleks.
Secara umum, seseorang yang mengalami burnout akan menunjukkan tiga gejala utama
- Kelelahan emosional yang luar biasa
- Munculnya rasa sinis atau menjaga jarak dengan pekerjaan
- Menurunnya rasa pencapaian pribadi karena merasa apapun yang dikerjakan tidak pernah cukup baik.
lantas, apa saja faktor utama yang membuat para pekerja kantor begitu rentan terjebak dalam lingkungan burnout ini?
A. Beban Kerja yang Melampaui Batas
Bukan rahasia lagi bahwa beban kerja yang berlebihan adalah pemicu paling konsisten di balik terjadinya burnout. Di berbagai sektor industri mulai dari logistic, keuangan, startup, hingga layanan Kesehatan tekanan untuk menyelesaikan tugas dalam waktu singkat dan target yang kurang realistis terus meningkat.
Fenomena jam kerja yang panjang, tuntutan untuk selalu multitasking, serta kaburnya batas antara kehidupan kerja dan pribadi (work-life balance) membuat karyawan kehabisan energi psikologisnya. Ketika tubuh dan pikiran dipaksa bekerja ekstra tanpa waktu pemulihan yang cukup, kelelahan emosional tidak lagi bisa dihindari.
B. Lingkungan Kerja yang "Beracun" dan Minim Dukungan
Pekerjaan yang berat sebenarnya bisa terasa lebih ringan jika ekosistem di sekitarnya mendukung. Sebaliknya, lingkungan kerja yang kurang kondusif akan mempercepat terjadinya burnout.
Faktor organisasi seperti kurangnya dukungan dari atasan, komunikasi yang tidak efektif, ketidakadilan dalam pembagian tugas, hingga minimnya pengakuan atas kinerja karyawan menjadi bahan bakar bagi munculnya stres kronis. Ketika budaya kerja terasa terlalu hirarkis, penuh perundungan, atau tidak memberikan ruang bagi pengembangan karier, karyawan akan merasa terjebak dan kehilangan motivasi kerjanya.
C. Faktor Unik dari Dalam Diri (Individu)
Menariknya, burnout tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga bagaimana karakteristik masing-masing individu berinteraksi dengan tekanan tersebut.
- Kecerdasan Emosional: Karyawan dengan kecerdasan emosional yang rendah cenderung lebih kesulitan mengelola stres kerja dan emosi negatif mereka, sehingga lebih cepat merasa lelah.
- Faktor Demografis: Beberapa riset menunjukkan bahwa kelompok pekerja muda, perempuan, dan mereka yang berada di posisi garis depan (frontline) memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap penurunan vitalitas kerja.
- Rasa Tanggung Jawab: Di sisi lain, pekerja dengan rasa tanggung jawab personal yang terlalu tinggi terkadang tetap memaksakan diri bekerja meski tubuhnya sudah memberikan sinyal kelelahan, demi menghidupi keluarga atau menjaga profesionalitas.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Burnout syndrome adalah masalah multidimensional yang tidak bisa diselesaikan secara sepihak. Solusinya membutuhkan kerja sama yang seimbang antara perusahaan dan karyawan itu sendiri.
Bagi organisasi atau perusahaan, langkah krusial yang harus diambil adalah
- mengelola beban kerja karyawan secara proporsional.
- Perusahaan perlu membangun lingkungan kerja yang sehat
- memberikan apresiasi yang adil,
- memperkuat sistem dukungan dari atasan,
- menyediakan program kesejahteraan karyawan (employee well-being program).
Sementara bagi para pekerja, sangat penting untuk membekali diri dengan keterampilan mengelola stres. Mulailah berani menetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, manfaatkan waktu istirahat dengan optimal, dan jangan ragu untuk mencari dukungan sosial atau profesional jika merasa tekanan kerja sudah mulai tidak terkendali. Menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan investasi jangka panjang agar kita bisa tetap berkarya dengan bahagia.
Yuk, jaga kesehatan mental kamu bersama Waskita! Kami menyediakan layanan konseling profesional yang siap membantu kamu menghadapi tantangan sehari-hari. Kesehatan mental kamu penting, jangan ragu untuk mendapatkan dukungan.
Cek layanan kami di sini: https://linktr.ee/waskita.psi
Referensi
Amiri, S., Mahmood, N., Mustafa, H., & Javaid, S. F. (2024). Occupational risk factors for burnout syndrome among healthcare professionals: A global systematic review.
Basir, M. I., Thamrin, Y., Muis, M., Russeng, S. S., Naiem, M. F., & Irwandy. (2023). Unlocking employee resilience: The role of work engagement as an intervening factor in the relationship between job demands, job resources, and burnout at PT. Maruki International Indonesia. Journal of Law and Sustainable Development, 11(4), e589.
Bolliger, L., Lukan, J., Colman, E., Boersma, L., Luštrek, M., De Bacquer, D., & Clays, E. (2022). Sources of occupational stress among office workers: A focus group study.
Carissa, R., Marsofiyati, & Kurnianti, D. (2024). Analysis of employee burnout at PT Home Tester Indonesia. International Student Conference on Business, Education, Economics, Accounting, and Management (ISC-BEAM), 2(1), 2560–2572. https://doi.org/10.21009/ISC-BEAM.012.186
Ed, S., & Lagu, A. (2022). Burnout: A review of theory and measurement
Fadilasari, A., & Selviana. (2023). Hubungan antara lingkungan kerja dan beban kerja dengan burnout. Psikologi Kreatif Inovatif, 3(3), 16–27. https://doi.org/10.37817/psikologikreatifinovatif.v3i3
Harun, Y. N., Hayati, S., & Musawwir. (2022). Work engagement dan burnout pada karyawan Kantor Pos (Persero) Makassar. Jurnal Psikologi Kontemporer, 2(1), 62–68. https://doi.org/10.56326/jpk.v2i1.1337
Herbig, B., Schneider, A., & Nowak, D. (2016). Does office space occupation matter? The role of the number of persons per enclosed office space, psychosocial work characteristics, and environmental satisfaction in the physical and mental health of employees. Indoor Air, 26(5), 755–767. https://doi.org/10.1111/ina.12263
Artikel Lainnya
Temukan berita dan wawasan menarik lainnya dari Biro Waskita
Tes Minat dan Bakat: Apa Itu, Untuk Siapa, dan Apa yang Bisa Kamu Dapatkan dari Hasilnya?
30 Juni 2026Kenapa Banyak Orang Salah Pilih Jurusan? Setiap tahun, ribuan siswa memilih jurusan SMA dan program studi kuliah — bukan b...
Mengenal Candradimuka: Kelas Kepribadian untuk Kamu yang Ingin Terhubung Lebih Baik dengan Orang Lai
29 Juni 2026Keterampilan Sosial Bukan Bakat — Ia Bisa Dipelajari Ada anggapan yang sangat umum: bahwa kemampuan bergaul, berkomunikasi...
Bukan Hanya Psikotes! Kenali Berbagai Layanan di Waskita Biro Konsultan Psikologi
29 Juni 2026Setiap individu maupun organisasi memiliki kebutuhan yang berbeda dalam mengelola dan mengembangkan sumber daya manusia. Oleh karena itu, layanan psikologi t...