Fear Of Missing Out (Fomo) : Sekadar Tren atau Ancaman bagi Kesehatan Mental ?
Di era digital yang serba cepat ini, menatap layar ponsel pintar seolah sudah menjadi refleks alami. Kita disuguhi kurasi momen terbaik dari kehidupan orang lain secara real time : liburan mewah, pencapaian karir, hingga nongkrong di cafe estetik. Dibalik kebiasaan scrolling ini, sering kali muncul perasaan tidak nyaman, cemas atau merasa tertinggal. Fenomena inilah yang kita kenal sebagai Fear of Missing Out atau biasa disebut FOMO. Namun, apakah FOMO hanya sekadar istilah tren anak muda, atau sudah bertransformasi menjadi ancaman nyata bagi kesehatan mental kita?
Memahami Akar Psikologis FOMO
Secara ilmiah, FOMO didefinisikan sebagai kecemasan difus atau menyeluruh bahwa orang lain mungkin mengalami pengalaman berharga saat kita tidak ada di sana (Przybylski et al., 2013). Fenomena ini erat kaitannya dengan Self-Determination Theory. Menurut teori ini, manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar : otonomi, kompetensi, dan keterkaitan (relatedness). Ketika kebutuhan akan keterkaitan sosial ini tidak terpenuhi di dunia nyata, individu cenderung mencarinya melalui media sosial, yang sayangnya justru seringkali memperparah rasa ketertinggalan tersebut.
Mengapa FOMO Bukan Sekadar Tren Lewat?
Media sosial bertindak sebagai pemicu utama. Jika dulu kita hanya membandingkan diri dengan tetangga sebelah rumah (social comparison theory), kini kita membandingkan diri dengan jutaan orang di seluruh dunia. FOMO menjadi berbahaya ketika ia berhenti menjadi sekadar "rasa iri sesaat" dan mulai mempengaruhi fungsi harian individu.
Beberapa dampak signifikan FOMO terhadap kesehatan mental yang telah dibuktikan oleh riset antara lain:
- Pemicu Gejala Depresi dan Ansietas: Riset menunjukkan adanya korelasi kuat antara tingkat FOMO yang tinggi dengan peningkatan gejala kecemasan dan depresi (Baker et al., 2016). Perasaan konstan bahwa hidup orang lain lebih baik memicu distorsi kognitif dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
- Gangguan Tidur dan Kelelahan Kronis: Demi tidak tertinggal informasi, banyak orang melakukan late night scrolling. Studi oleh Scott dan Woods (2016) menemukan bahwa penggunaan media sosial di malam hari yang didorong oleh kecemasan tertinggal informasi berhubungan langsung dengan kualitas tidur yang buruk dan tingkat kecemasan yang lebih tinggi pada remaja.
- Penurunan Kepuasan Hidup (Life Satisfaction): FOMO secara konsisten memprediksi rendahnya kepuasan hidup individu karena fokus perhatian terus-menerus dialihkan pada apa yang tidak kita miliki, alih-alih apa yang sedang kita jalani (Przybylski et al., 2013).
Sudut pandang Biopsikososial mengenai FOMO :
- Biologis: Adanya lonjakan hormon stres (kortisol) dan gangguan ritme sirkadian akibat paparan blue light dari gadget saat begadang demi update informasi.
- Psikologi: Munculnya persepsi diri yang rendah (low self-esteem), kecemasan sosial, dan kegagalan dalam regulasi diri (self-regulation failure).
- Social: Tekanan dari lingkungan sebaya (peer pressure) dan konstruksi standar kebahagiaan digital yang tidak realistis.
Dari FOMO menuju JOMO: Strategi Regulasi Diri
Menghadapi FOMO bukan berarti kita harus menutup diri secara total dari teknologi. Langkah kuncinya terletak pada regulasi diri (self-regulated learning/living) dan manajemen stres yang proaktif. Salah satu gerakan yang kini mulai diadopsi adalah JOMO (Joy of Missing Out) sebuah seni untuk menikmati momen saat ini tanpa merasa bersalah atau cemas atas apa yang dilewatkan orang lain.
Beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:
- Digital Detox Terjadwal : Menetapkan waktu bebas gawai, terutama 1 jam sebelum tidur untuk menjaga kualitas tidur.
- Mindful Scrolling : Menyadari emosi yang muncul saat melihat unggahan tertentu. Jika sebuah akun memicu rasa tidak aman secara konsisten, tidak ada salahnya menggunakan fitur mute atau unfollow.
- Grounding Techniques : Saat kecemasan mulai datang, lakukan teknik relaksasi sederhana (seperti fokus pada napas atau lingkungan sekitar) untuk mengembalikan kesadaran ke momen saat ini (present moment).
FOMO mungkin bermula dari istilah populer di dunia digital, namun dampaknya terhadap kesehatan mental adalah ancaman nyata yang valid secara ilmiah. Dengan memahami akar masalahnya secara holistik baik dari sisi psikologis maupun sosial kita dapat mengambil kendali penuh atas kesejahteraan mental kita sendiri, tanpa harus didikte oleh notifikasi di layar ponsel.
Jika FOMO mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Waskita Biro Konsultan Psikologi siap mendampingi Anda melalui layanan konseling untuk membantu mengelola kecemasan, meningkatkan regulasi emosi, dan menjaga kesehatan mental. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.
Referensi
Baker, Z. G., Krieger, H., & LeRoy, A. S. (2016). Fear of missing out: Relationships with depression, mindfulness, and physical symptoms. Translational Issues in Psychological Science, 2(3), 275–282. https://psycnet.apa.org/doi/10.1037/tps0000075
Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0747563213000800
Scott, H., & Woods, H. C. (2016). Fear of missing out and sleep quality: The role of social media use in adolescence. Journal of Adolescence, 51, 41–49.
Artikel Lainnya
Temukan berita dan wawasan menarik lainnya dari Biro Waskita
Beban Ganda Generasi Sandwich: Ketika Harus Merawat Anak dan Orang Tua di Waktu yang Bersamaan.
22 Juli 2026Pernahkah Anda merasa b...
Mengapa Upgrade Soft skills Itu Penting? Temukan Alasannya di Sini!
17 Juli 2026Dunia kerja saat ini bergerak ...